Pasang Surut Kerajinan Songket Palembang



Sumatera Selatan merupakan wilayah  yang kaya akan budaya. Budaya yang dimiliki sangat beragam. Salah satu budayanya ialah kain tradisional. Wilayah Palembang khususnya, memang tercatat memiliki sejarah yang cukup panjang. Mulai dari kerajaan Sriwijaya sampai dengan Kesultanan Palembang. Banyak peninggalan tak ternilai yang berasal dari kerajaan-kerajaan terkenal itu, satu diantaranya adalah budaya wastra, tenun songket. Pada ulasan kali ini, saya akan mengemukakan tentang sejarah kain songket palembang.

Songket adalah sebutan untuk kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan, yaitu dengan menyisipkan benang emas, perak atau warna di atas benang lungsin. Songket merupakan kerajinan tradisional khas masyarakat di hampir seluruh penjuru Sumatera, mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Riau. (hujanpelangi.com, 2010:1)

Sejak zaman prasejarah, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal teknik menenun. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan tembikar dari periode neolitik yang di dalamnya terdapat kain tenun kasar, juga beberapa temuan fragmen kain tenun lainnya. (Soesandireja, 2015)

Songket Palembang konon merupakan peninggalan dari kejayaan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-9 Masehi. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-7 ini pada perkembangannya  mampu menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka, hingga mempunyai pengaruh cukup kuat di wilayah India dan Cina. (dandicka93.blogspot.co.id, 2012:1)

Jaringan perdagangan internasional membawa pengaruh besar dalam hal pengolahan kain tradisional songket (idayoce.blogspot.co.id, 2013:1). Pada perkembangannya dimungkinkan bahan yang digunakan untuk membuat songket telah di kirim dari berbagai daerah. Sementara itu, melemahnya kerajaan-kerajaan di Nusantara pada akhir abad ke-18–khususnya di Pulau Sumatra dan munculnya kolonial Belanda secara tidak langsung telah berdampak pada kerajinan tenun songket ini.

Selanjutnya menjelang Perang Dunia II, keberadaan songket bahkan mengalami kemunduran karena kesulitan mendapat bahan baku. Berakhirnya pengaruh Belanda di Nusantara karena meluasnya pengaruh Jepang di Asia Pasifik, hingga menjelang masa kemerdekaan sampai dengan tahun 1950, tenunan kain Songket seolah mati suri. (Soesandireja, 2015)

Kemudian pada saat ini, songket sudah mengalami masa keemasannya lagi. Seiring dengan perkembangan masa moderen, songket juga mengalami perubahan yang sangat pesat. Dahulu, kain songket hanya dipakai oleh kaum bangsawan. Namun sekarang kain songket sudah dipakai tidak hanya oleh kaum bangsawan semata melainkan juga masyarakat dari semua golongan.

Keberadaan kain songket, merupakan salah satu kekayaan bangsa yang harus dijaga keberadaannya agar tetap lestari. Jangan sampai bangsa kita kehilangan salah satu budaya yang dimiliki. Sebagai seorang pelajar kita harus mulai menanamkan rasa cinta terhadap budaya bangsa kita. Dengan seperti itu kita telah ikut berpartisipasi dalam menjaga budaya kita Indonesia.

Komentar